Kamis, 23 Februari 2012

Modul-3-SERAPAN_SINGKATAN_DAN_TANDA_BACA_


BAB III
PENGGUNAAN DAN TATA TULIS EJAAN
( PENULISAN) SERAPAN, SINGKATAN DAN TANDA BACA )
Sasaran Belajar
Setelah mempelajari materi bab ini, mahasiswa diharapkan mampu :
1.     menuliskan secara tepat setiap unsur serapan yang digunakan,
2.     melafalkan secara tepat setiap unsur serapan yang digunakan ;
3.     mengidentifikasikan penulisan unsur serapan yang ditemukan dalam tulisan yang disusun sendiri atau yang dibaca ;
4.     menggunakan singkatan secara tepat sesuai kaidah ejaan ;
5.     menggunakan tanda-tanda baca sesuai dengan kaidah ejaan;
6.     menempatkan secara tepat tanda-tanda baca pada berbagai jenis tulisan.
1.     Pendahuluan
Pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar juga ditentukan oleh kecermatan penulisan unsur serapan, singkatan, dan ketepatan pemakaian tanda baca. Ketidakcermatan penulisan unsur serapan, singkatan dan ketidaktepatan pemakaian tanda baca dapat mengakibatkan pembaca atau lawan bicara tidak dapat mengerti maksud (isi) pembicaraan. Sehubungan dengan itu, pengguna bahasa juga harus cermat dan tepat menggunakan ketiga aspek kaidah ejaan tersebut. Untuk mengetahui kaidah penulisan unsur serapan, singkatan, dan tanda baca, berikut ini akan dijelaskan beberapa kaidah yang bertalian dengan ketiga aspek ejaan tersebut.
2.     Penulisan Unsur Serapan
Dalam perkembangannya bahasa Indonesia banyak menyerap unsur dari bahasa lain, baik dari bahasa daerah maupun dari bahasa asing. Berdasarkan taraf integrasinya, unsur serapan itu ada yang sudah disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia, baik pengucapannya maupun penulisannya, dan ada pula yang belum sepenuhnya disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
Berikut ini akan dijelaskan secara singkat hal-hai yang berhubungan dengan kaidah penyerapan yang disertai dengan sejumlah contoh.
2.1    Penyerapan secara Alamiah
Kata-kala asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia yang. lazim dieja dan dilafalkan dalam bahasa Indonesia tidak mengalami perubahan. Penyerapan seperti ini dikategorikan sebagai penyerapan secara alamiah Contoh :
abjad
ilham
sirsak
abad
kabar
mode
sehat
hikayat
radio
orator
badan
perlu
meja
kitab
minggu
potret
arloji
listrik
imitasi
supir
2.2    Penyerapan seperti Bentuk Asal
Unsur asing yang belum sepenuhnya diserap ke dalam bahasa Indonesia dapat dipakai dalam bahasa Indonesia dengan jalan masih mempertahankan lafal bahasa asalnya (asing). Jadi, pengucapan kata tersebut-masih seperti bentuk asalnya. Penyerapan seperti ini tidak terlalu banyak ditemukan dalam bahasa Indonesia
Contoh :
             shuttle cock                                      Outside
             cum laude                                        bridge
             de facto                                             hockey
             curriculum vitae                              status quo
2.3    Penyerapan dengan Terjemahan
Penyerapan unsur-unsur bahasa asing ke dalam bahasa Indonesia dapat dilakukan melalui penerjemahan kata-kata asing tersebut. Penerjemahan ini dilakukan dengan cara memilih kata-kata asing tertentu kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Penyerapan ini dapat berupa satu kata asing dipadankan dengan satu kata atau lebih dalam bahasa Indonesia.
Contoh :
Kata Asing.                      Terjemahan Indonesianya
Volcano                           gunung api
feed back                         umpan balik (balikan)
medical                            pengobatan
take off                             lepas landas
point                                 butir
in put                                masukan
out put                              keluaran
2.4    Penyerapan dengan Perubahan .
Unsur-unsur bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia ada yang penulisan dan pelafalannya disesuaikan dengan sistem ejaan dan lafal bahasa Indonesia. Dengan demikian, bentuk asalnya akan mengalami perubahan setelah diserap ke dalam bahasa Indonesia. Dalam penyerapan ini, perlu diusahakan agar ejaan dan lafal asing (asal) hanya diubah seperlunya sehingga bentuk Indonesianya masih dapat dibandingkan dengan bentuk asalnya. Hal ini dilakukan agar bahasa Indonesia dalam perkembangannya memiliki ciri umum (internasional).
Dalam buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan. penyerapan dengan perubahan seperti ini diatur dalam sejumlah kaidah. Ada 57 ketentuan mengenai perubahan dan penyesuaian bunyi dari kata asing ke kata Indonesia. Contohnya dapat dilihat pada bentuk sera pan berikut.
Bentuk Asal
Bentuk Serapan
Bentuk Asal
Bentuk serapan
octaaf
hematite
construction
accommodation
accent
technique
effective
idealist
geometry
effect
komfoor
zoology
gauverneur
cholera
television
oktaf
hematit
konstruksi
akomodasi
aksen
teknik
efektif
idealis
geometri
efek
kompor
zoologi
gubernur
kolera
televisi
quitancy
structure
circulation
acclamation
charisma
cheek
system
station
fossil
central
phase
aquarium
rhetorik
institute
exclusive
kuitansi
struktur
sirkulasi
aklamasi
karisma
cck
sistem
stasiun
 fosil
sentral
fase
akuarium
retorik
institut
eksklusif
2.5    Penyerapan Akhiran Asing
Di samping penyesuaian huruf dan bunyi pada kata-kata serapan, bahasa Indonesia juga mengambil akhiran-akhiran asing sebagai unsur serapan. Akhiran-akhiran asing itu disesuaikan dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam bahasa Indonesia. Ketentuan itu telah diatur dalam kaidah Ejaan yang Disempurnakan. Akhiran asing itu ada yang diserap sebagai bagian kata yang utuh, seperti kata standardisasi di samping kata standar, kata implementasi di samping kata implemen, dan kata objektif di samping kata objek. Akhiran-akhiran itu antara lain -is, -isme, -al, dan -ik, dan -ika, -wan, -wati, -log, -tas, dan -ur.
3.     Penulisan Singkatan dan Akronim
Singkatan dan akronim merupakan hasil proses pelepasan atau penanggalan bagian kata atau bagian-bagian dari gabungan kata sehingga menjadi sebuah bentuk singkat yang maknanya sama dengan bentuk utuhnya. Singkatan dan akronim ini cukup produktif digunakan dalam penulisan. Perbedaan kedua hasil proses pelepasan atau penanggalan ini dapat kita lihat pada uraian di bawah ini.
3.1    Singkatan
Yang dimaksud dengan singkatan adalah proses pemendekan yang dilakukan dengan pengekalan sebuah atau beberapa huruf yang tidak membentuk kata. Karena proses pengekalannya tidak membentuk kata, cara pelafalannya tetap disesuaikan dengan cara melafalkan abjad-abjad yang ada dalam bahasa Indonesia. Adapun penulisannya diatur dalam sejumlah kaidah, yaitu :
1)    Singkatan nama diri, seperti nama resmi lembaga pemerintahan dan ketatanegaraan, organisasi, instansi, lembaga, departemen, serta. nama dokumen resmi yang diambil dari gabungan antara huruf pertama awal kata dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik.
Contoh :
DPR                  PDI                               TPI
RCTI                  KTP                              SMU
2)    Singkatan kata-kata umum yang terdiri atas tiga huruf ditulis dengan menggunakan huruf kecil dan diakhiri tanda titik. contoh :
dsb.                    dll.                                 dkk.
dst.                     sbb.                              sda.
3)    Singkatan kata-kata umum yang terdiri atas dua huruf, semuanya ditulis dengan menggunakan huruf kecil dan setiap huruf diikuti tanda titik. Contoh :
a.n.                    d.a.                               n.b.
a.l.                      u.b.                               s.d.
4)    Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan, Jabatan atau pangkat ditulis dengan huruf kapital pada awal singkatan tersebut dan diikuti tanda titik: Contoh .
R.A.Kartini               Muh.Akil B                Bpk ,
Prof                           Let.                             Ir.
5)    satuan ukuran, takaran, timbangan, satuan mata uang. dan lambang kimia tidak menggunakan tanda titik.
Contoh:
kg                         cm                            1 (liter)
Rp                        Cu                            m (meter)
3.2    Akronim
Berbeda dengan singkatan, akronim merupakan hasil proses pemendekan yang membentuk kata sehingga dilafalkan seperti kata. Kaidah penulisan akronim juga diatur dalam sejumlah kaidah, yaitu .
1)    Akronim yaitu diri yang berupa gabungan antara awal kata dengan awal kala dari deret kata semuanya ditulis dengan menggunakan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik.

Contoh :
LAN                               IKIP                          MUI
SIM                                NIP                           AFI
2)    Akronim nama diri yang berupa gabungan antara suku kata dengan suku kata atau antara awal kata dengan suku kata dari deret kata diawali dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik. Contoh :
Golkar                                 Iwapi Unhas
Pertamina                          Linud
3)    Akronim yang bukan nama diri dan berupa gabungan antara suku kata dengan suku kata atau antara suku kata dengan awal kata dari deret kata, semuanya ditulis dengan huruf kecil.
Contoh :
pemilu                       rudal rapim
bemo                         patas berdikari
4.     Pemakaian Tanda Baca
Bahasa tulisan merupakan gambaran bahasa lisan. Bahasa lisan lebih lengkap jika dibandingkan dengan bahasa in lisan karena bahasa lisan masih dapat menghadirkan alat-alat bantu untuk membantu kelancaran komunikasi Alat bantu yang dimaksud adalah gerak tangan, mimik. tekanan suara, atau alat bantu yang lain. Namun demikian, bahasa tulisan juga dapat menggunakan alat bantu sebagai pengganti alat bantu yang terdapat pada bahasa lisan, berupa tanda baca. Tanda-tanda baca itu sangat berarti dalam bahasa tulisan.
Pemakaian tanda baca yang tepat tenting diperhatikan dalam penulisan karya ilmiah. Banyak pemakai bahasa yang kurang mengindahkan kaidah tanda baca sehingga tulisan yang disusunnya tidak mencapai sasaran. Adanya pemakaian tanda baca yang tepat dapat membantu pembaca memahami tulisan dengan cepat. Sebaliknya, tidak adanya tanda baca atau tidak tepatnya penggunaan tanda-tanda baca dapat menyulitkan pembaca memahami suatu tulisan, bahkan dapat mengubah pengertian kalimat.
Untuk mencapai kesempurnaan dalam berbahasa, khususnya dalam pemakaian bahasa tulisan. pengguna bahasa harus berupaya memahami aturan penggunaan tanda baca seperti yang terdapat dalam buku Pedoman Umum Ejaan .Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Untuk membantu memahami kaidah tanda baca tersebut berikut ini akan diformulasikan secara singkat kaidah-kaidah yang dimaksud.
(1)  Tanda titik dipakai pada
a.    akhir kalimat pernyataan,
b.    singkatan nama orang.
c.    singkatan gelar, jabatan. pangkat, dan sapaan,
d.    kata atau ungkapan yang sudah sangat umum,
e.    di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan,
f.     memisahkan angka pukul, menit, dan delik yang menunjuk waktu, dan
g.    memisahkan angka jam. menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu.
(2)  Tanda titik tidak dipakai :
a.     untuk memisahkan angka ribuan atau jutaan yang tidak menunjukkan jumlah,
b.     dalam singkatan yang terdiri atas huruf awal kata, suku kata, atau dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat,
c.     dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang,
d.     pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, tabel, ilustrasi, dan
e.     di belakang alamat pengirim.
(3)  Tanda koma dipakai:
a.     di antara unsur-unsur dalam suatu pamerin,
b.     memisahkan kalimat yang setara,
c.     memisahkan anak kalimat dan induk kalimat,
d.     di belakang kata atau ungkapan penghubung antar kalimat yang terdapat pada posisi awal,
e.     di belakang kata-kata seruan,
f.      memisahkan petikan langsung dari bagian lain,
g.     di antara unsur-unsur alamat yang ditulis berurutan,
h.    menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya,
i.      di antara tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahun penerbitan,
j.       di antara nama orang dan gelar akademik, dan
k.     untuk mengapit keterangan tambahan.
(4)  Tanda titik koma dipakai :
a.     memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara, dan
b.     memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk.
(5)  Tanda titik dua dipakai:
a.    pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian atau pemerian, kecuali kalau rangkaian atau pemerian merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
b.    sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian,
c.    dalam teks drama, sesudah kata yang menunjukkan pelaku percakapan, dan
d.    di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat yang terdapat dalam kitab suci, atau di antara judul dan anak judul suatu karangan.
(6)  Tanda hubung dipakai :
a.    untuk menyambung suku-suku kata yang terpisah karena pergantian baris,
b.    menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, menyambung unsur-unsur kata ulang. dan
c.    menyambung awalan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke depan angka, angka dengan -an, dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan.
(7)  Tanda pisah dipakai :
a.    membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi keterangan atau penjelasan,
b.    menegaskan adanya oposisi, dan
c.    di antara dua bilangan atau tanggal yang berarti sampai dengan.
(8)  Tanda elipsis dipakai :
a.     menggambarkan kalimat yang terputus-putus, dan
b.     menunjukkan bahwa dalam suatu petikan ada bagian yang dihilangkan.
(9)  Tanda tanya dipakai :
a.    pada akhir kalimat tanya, dan
b.    menyatakan kesangsian tentang sesuatu.
(10)    Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang mengandung seruan atau perintah.
(11)    Tanda kurung dipakai :
a.     mengapit keterangan tambahan,
b.     mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan,
c.     mengapit huruf atau kata yang kohadirannya di dalam teks. Dapat dihilangkan, dan
d.     mengapit angka atau huruf yang merinci satu urutan keterangan.

(12)    Tanda kurung siku dipakai :
a.    mengapit huruf, kata. atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang tertulis dalam naskah asli, dan
b.    mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung.
(13)    Tanda garis miring dipakai :
a.    pada penomoran surat. alamat, dan masa tahunan yang terbagi dalam dua tahun takwin, dan
b.    sebagai pengganti kata atau, tiap.
(14)    Tanda petik tunggal dipakai :
a.    mengapit petikan dalam petikan lain, dan
b.    mengapit makna. terjemahan. atau penjelasan kata asing



















LEMBAR JAWABAN MAHASISWA
TUGAS BAB  I
Nama dan Stambuk  Mahasiswa       :
Program Studi                                       :
Petunjuk: Mahasiswa diiinstruksikan membaca Bab III ini dengan tenang, lalu membentuk kelompok kemudian diskusikan.  Hasil diskusi tersebut dibuat dalam bentuk kesimpulan-kesimpulan di bawah ini. Pemakaian huruf
Jawaban: